
Harga saham naik, tapi mengapa opsi beli (call) yang kamu beli masih rugi? Banyak pemula mengira bahwa membeli Call (opsi beli) berarti cukup dengan harga saham naik, maka akan langsung untung. Padahal, membeli Call bukan hanya memprediksi harga saham akan naik, tapi juga harus memperkirakan seberapa besar kenaikannya sebelum jatuh tempo, kapan kenaikannya terjadi, dan kapan harus menjualnya. Tidak cukup hanya dengan membeli lalu menunggu untung secara pasif. Kompleks? Mari langsung lihat contohnya: Ambil contoh $SPCX, Pada 20 Oktober, laporan keuangan dirilis setelah jam perdagangan, dan harga saham sempat melonjak hingga $166,17 pada hari berikutnya. Misalkan kamu membeli Call yang jatuh tempo pada 21 Oktober dengan strike price $162,50, Meskipun harga saham sudah melewati $162,50, kamu tetap bisa kehilangan seluruh modalmu. Karena pada penutupan 21 Oktober, harga $SPCX turun menjadi $159,29, di bawah strike price, dan Call tersebut juga jatuh tempo pada hari itu. Karena harga saham pada saat jatuh tempo masih di bawah strike price, maka Call ini tidak bernilai, dan premi yang sebelumnya kamu bayarkan hilang seluruhnya. Lalu, bisakah menjual lebih awal? Tentu saja bisa. Opsi tidak harus dipegang hingga jatuh tempo; kamu bisa menutup posisi kapan saja selama sesi perdagangan. Namun, meskipun harga saham melewati strike price, itu tidak menjamin keuntungan—kamu juga harus mempertimbangkan berapa besar premi yang awalnya kamu bayarkan dan harga opsi saat kamu menjualnya. Akan dibahas lebih detail lain waktu.