ChainThink melaporkan, pada 5 Maret, Komando Pusat AS menyatakan bahwa militer AS sedang menggunakan serangkaian alat AI untuk memproses sejumlah besar data yang dihasilkan dari operasi terhadap Iran. Sejak dimulainya serangan militer minggu lalu, AS telah menyerang lebih dari 2.000 target, dengan 1.000 target diserang dalam 24 jam pertama. Jenderal Brad Cooper, Komandan Komando Pusat, menyebut skala operasi ini hampir "dua kali lipat" dibandingkan operasi AS terhadap Irak pada tahun 2003.
Kapten Timothy Hawkins, juru bicara Komando Pusat, menyatakan bahwa teknologi kecerdasan buatan memainkan peran kunci dalam operasi terhadap Iran, memungkinkan analis untuk fokus pada analisis dan verifikasi tingkat lebih tinggi dengan menyaring data masuk secara awal. Menurut sumber yang mengetahui, salah satu teknologi AI yang digunakan dalam operasi terhadap Iran adalah platform kendali misi digital Maven Smart System. Menurut pernyataan sebelumnya dari militer Amerika Serikat, sistem ini dikembangkan oleh Palantir Technologies dan dapat terhubung ke lebih dari 150 sumber data berbeda. Salah satu model bahasa besar yang diinstal dalam sistem ini juga mencakup alat Claude dari Anthropic.
