AS Memicu Perdebatan tentang Distribusi Kekayaan AI karena Perusahaan Teknologi Untung

icon MarsBit
Bagikan
AI summary iconRingkasan
Para anggota legislatif AS dan para ahli sedang mendebatkan cara membagi kekayaan yang dihasilkan oleh AI, dengan usulan mulai dari kepemilikan publik hingga kompensasi data. Senator Bernie Sanders menyerukan kendali negara atas separuh sektor AI, sementara Jaron Lanier mendorong pembayaran kepada penyumbang data. Kritikus mengatakan kompensasi individu tidak praktis. Sinyal perdagangan on-chain menunjukkan meningkatnya minat terhadap TA dalam kripto seiring partisipan pasar memantau perubahan regulasi. Resistensi publik terhadap infrastruktur AI menyoroti kekhawatiran atas biaya sosial dan lingkungan.

Berita Huoxing Caijing melaporkan bahwa pada 27 Juli, seiring dengan percepatan pertumbuhan kekayaan oleh kecerdasan buatan, Amerika Serikat sedang melakukan diskusi kebijakan mengenai "bagaimana keuntungan AI harus didistribusikan". Beberapa ekonom, peneliti teknologi, dan tokoh kebijakan mengusulkan berbagai solusi, termasuk dana kekayaan berdaulat AI, kepemilikan publik, pembagian keuntungan bagi penyumbang data, serta pemendekan jam kerja. Sebelumnya, Senator Amerika Serikat Bernie Sanders mengusulkan agar publik memegang setengah saham industri kecerdasan buatan. Meskipun usulan ini sulit diwujudkan menjadi kebijakan dalam jangka pendek, ia mencerminkan masalah inti: jika AI di masa depan menciptakan nilai ekonomi tambahan triliunan dolar, apakah warga biasa seharusnya ikut menikmati keuntungan tersebut. Saat ini, kekayaan yang dihasilkan oleh AI telah cepat tercermin dalam peningkatan kapitalisasi pasar perusahaan teknologi, tetapi banyak pekerja Amerika merasa bahwa sementara perusahaan memperoleh keuntungan besar, komunitas dan publik menanggung biaya seperti pembangunan pusat data dan konsumsi energi. Survei terbaru menunjukkan bahwa hanya 27% warga Amerika mendukung pembangunan pusat data di dekat wilayah mereka, sementara 63% menyatakan menolak. Mengenai distribusi keuntungan AI, pasar mengusulkan berbagai jalur. Salah satunya adalah model "Data Dignity" yang diajukan oleh ilmuwan Microsoft Research Jaron Lanier, yang berpendapat bahwa memberikan kompensasi kepada penyumbang data pelatihan AI memungkinkan individu memperoleh keuntungan dari penyediaan data dan konten mereka. Beberapa peneliti menyarankan pembentukan mekanisme serupa pembagian royalti musik, di mana perusahaan AI menyalurkan sebagian laba ke dalam dana bersama dan mendistribusikannya berdasarkan dampak kontribusi data terhadap kinerja model. Namun, para penentang berpendapat bahwa model AI bergantung pada jutaan bahkan miliaran sumber data, sehingga sangat sulit untuk secara akurat menilai nilai data individu tertentu. Solusi lain adalah membangun mekanisme tata kelola AI yang melibatkan publik. Yayasan RadicalxChange berpendapat bahwa melalui sistem hak hukum baru, organisasi publik dapat memiliki kemampuan untuk memperoleh saham, kompensasi, dan hak tata kelola dari perusahaan AI. Saat ini, bagaimana kekayaan AI didistribusikan telah menjadi salah satu isu kebijakan teknologi Amerika dan topik pemilu mendatang. Seiring dengan terus membesarnya skala industri kecerdasan buatan, perdebatan mengenai "siapa yang memiliki nilai yang diciptakan oleh AI" kemungkinan akan semakin memanas.

Penafian: Informasi pada halaman ini mungkin telah diperoleh dari pihak ketiga dan tidak mencerminkan pandangan atau opini KuCoin. Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi umum, tanpa representasi atau jaminan apa pun, dan tidak dapat ditafsirkan sebagai saran keuangan atau investasi. KuCoin tidak bertanggung jawab terhadap segala kesalahan atau kelalaian, atau hasil apa pun yang keluar dari penggunaan informasi ini. Berinvestasi di aset digital dapat berisiko. Harap mengevaluasi risiko produk dan toleransi risiko Anda secara cermat berdasarkan situasi keuangan Anda sendiri. Untuk informasi lebih lanjut, silakan lihat Ketentuan Penggunaan dan Pengungkapan Risiko.