Thailand minggu lalu menghentikan 49 proyek pembangunan pusat data, menunjukkan bahwa perdebatan seputar ekspansi infrastruktur AI semakin memanas di Asia. Seiring negara-negara sebelumnya giat menarik investasi pusat data, penggunaan listrik, air, keamanan, dan kapasitas dukungan komunitas mulai menjadi masalah yang lebih nyata, sehingga pengembang pun menyesuaikan kembali rencana pembangunan mereka.
Thailand menangguhkan 49 proyek
Pada 4 September, otoritas Thailand menghentikan konstruksi 49 proyek pusat data dan mulai menyusun aturan baru mengenai penggunaan sumber daya dan keamanan. Sebelumnya, beberapa negara di Asia secara aktif menarik pusat data dengan menawarkan insentif pajak, diskon lahan, serta dukungan listrik dan air.
Perusahaan teknologi seperti Microsoft dan Amazon dalam beberapa tahun terakhir telah berkomitmen untuk menginvestasikan puluhan miliar dolar AS di Asia untuk membangun pusat data dan infrastruktur AI baru. Namun, sementara permintaan meningkat pesat, kecepatan pelaksanaan proyek mulai terhambat oleh keterbatasan kondisi nyata.
Desain mulai mendekati komunitas
Chief Investment Officer Bridge Data Centers, Kevin Guan, menyatakan bahwa kecepatan pembangunan pusat data skala besar memiliki batas fisik, dan pengiriman proyek telah mengalami penundaan dan tantangan yang jelas. Perusahaan desain arsitektur Gensler juga menyatakan bahwa terdapat suara penolakan terhadap ekspansi pusat data di berbagai belahan dunia.
Di kota-kota Asia dengan lahan terbatas, pusat data mulai berkembang ke atas, dengan beberapa proyek mencapai ketinggian 10 hingga 11 lantai dan berlokasi lebih dekat dengan area perumahan. Hal ini memaksa pengembang untuk melakukan lebih banyak penyesuaian terhadap kebisingan, tampilan, penanganan panas, dan fasilitas sekitar.
Sebagian pelanggan masih mencoba memanfaatkan panas sisa dari pusat data untuk memanaskan kolam renang di musim dingin, guna meningkatkan efisiensi penggunaan energi dan mengurangi kritik terhadap fasilitas berkonsumsi energi tinggi.
Tekanan air dan energi belum terpecahkan
Pusat data biasanya memerlukan sejumlah besar air tawar untuk mendinginkan chip. Di Johor, Malaysia, Bridge Data Centers membangun fasilitas pengolahan air limbah untuk mendaur ulang air limbah kota, guna mengurangi dampak terhadap pasokan air minum kota. Perusahaan tersebut menyatakan bahwa air olahan yang tidak terpakai akan dikembalikan ke komunitas.
Sementara itu, bangunan pusat data biasanya dirancang dengan masa pakai 20 tahun, tetapi masa pakai chip AI terbaru mungkin kurang dari 5 tahun. Untuk menyesuaikan dengan pergantian perangkat keras yang lebih cepat, Bridge sedang menggunakan bahan modular yang memungkinkan peralatan di dalam ruang server diganti seperti balok mainan.
Namun, tekanan keberlanjutan pada pusat data belum hilang. Menurut data Badan Energi Internasional, sekitar 56% energi yang dikonsumsi oleh pusat data global masih berasal dari batu bara dan gas alam. Hal ini juga memberikan tekanan pada target pengurangan emisi perusahaan sendiri.
