Semiconductor Manufacturing International Corporation, yang lebih dikenal sebagai SMIC, baru saja merilis angka kuartalan yang membuat para analis terlihat seperti membawa kalkulator ke pertarungan superkomputer. Pembuat chip Tiongkok ini melaporkan laba bersih Q2 2026 yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham sebesar $479,2 juta, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya dan hampir dua kali lipat dari kisaran $253 hingga $257 juta yang diperkirakan para analis.
Kekuatan pendorong di balik kuartal yang luar biasa: permintaan tak kenal lelah terhadap chip terkait AI.
Angka-angka yang penting
Margin kotor SMIC mencapai 25,3%, jauh melebihi perkiraan analis sebesar 21,4%.
Melihat ke depan, SMIC memperkirakan pertumbuhan pendapatan berurutan sebesar 2% hingga 4% pada Q3 2026.
Hasil dilaporkan pada 13 Agustus, dengan saham diperdagangkan di Bursa Saham Hong Kong dengan ticker 0981.HK. SMIC memegang kehormatan sebagai foundry unggulan Tiongkok.
Permintaan AI bertemu kenyataan geopolitik
Washington telah menghabiskan beberapa tahun terakhir memperketat kontrol ekspor yang dirancang untuk membatasi akses Tiongkok terhadap teknologi pembuatan chip canggih. Pembatasan tersebut menargetkan segala sesuatu mulai dari peralatan litografi mutakhir hingga desain chip kelas atas, bertujuan untuk memperlambat kemajuan Beijing dalam AI dan komputasi militer.
SMIC tidak memproduksi chip paling canggih di dunia. Mahkota itu masih dimiliki oleh TSMC asal Taiwan, yang memproduksi prosesor mutakhir pada node proses yang belum dapat disaingi oleh SMIC. Namun, chip inferensi, prosesor edge computing, dan berbagai komponen akselerator AI semuanya dapat diproduksi pada node proses matang dan menengah di mana SMIC bersaing secara efektif.
Apa artinya ini bagi lanskap semikonduktor
Kuartal luar biasa SMIC tiba pada saat industri semikonduktor global berusaha memahami bentuk kurva permintaan AI sebenarnya. TSMC telah mencatat angka yang kuat didorong oleh angin tailwind yang sama.
SMIC masih menghadapi kendala signifikan dalam mengakses peralatan manufaktur paling canggih, dan kemampuan perusahaan untuk beralih ke node proses yang lebih kecil tetap menjadi pertanyaan terbuka.
