Pemimpin Mayoritas Senat John Thune melanjutkan rencana untuk mengadakan pemungutan suara atas Clarity Act minggu depan, meskipun belum mencapai kesepakatan dengan para Demokrat. Clarity Act adalah undang-undang penting yang bertujuan untuk merancang pengawasan pasar kripto AS, memperjelas tanggung jawab antara Securities and Exchange Commission (SEC) dan Commodity Futures Trading Commission (CFTC). RUU ini, yang telah lulus Komite Perbankan Senat, memerlukan langkah legislatif lebih lanjut, termasuk persetujuan oleh Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat, serta tanda tangan presiden, agar menjadi undang-undang. Para pelaku pasar tampaknya menafsirkan keputusan Thune untuk menjadwalkan pemungutan suara sebagai langkah nyata menuju kemungkinan diberlakukannya undang-undang ini, meskipun kurangnya dukungan bipartisan dapat menimbulkan tantangan.
Poin Utama
- Keputusan Thune untuk melanjutkan pemungutan suara di Senat tampaknya merupakan langkah nyata menuju kemajuan Undang-Undang Clarity.
- Harga pasar menunjukkan bahwa peserta memandang pemungutan suara yang direncanakan sebagai berpotensi positif bagi prospek RUU tersebut, meskipun ada hambatan partai.
- Undang-Undang Clarity bertujuan untuk memperjelas pengawasan regulasi di sektor kripto, sebuah poin yang menjadi perhatian besar bagi peserta pasar.
Apa yang Harus Diperhatikan
Pemungutan suara Senat mendatang akan menjadi indikator kritis terhadap kemajuan legislatif Clarity Act. Peserta pasar akan memperhatikan perubahan apa pun dalam dukungan politik, terutama dari senator Demokrat kunci. Selain itu, pernyataan dari Presiden Donald Trump dan tokoh-tokoh berpengaruh seperti Menteri Keuangan Scott Bessent dapat lebih memengaruhi sentimen pasar. Perkembangan yang mendukung skenario YES akan mencakup dukungan bipartisan atau hasil yang menguntungkan dalam pemungutan suara Senat, sementara hambatan dapat muncul dari perbedaan partisan yang berlanjut atau oposisi presiden.
Dapatkan analisis pasar prediksi langsung, didukung oleh Vera. Daftar untuk Vera.


