David Schwartz, Chief Technology Officer Emeritus of Ripple, posted a direct rebuttal to the popular conspiracy theory about a "secret plan" by the U.S. government regarding XRP. Since 2013, various theories have emerged around XRP, claiming that the token will become the world's reserve currency and connect all banks.
Saat pasar mengharapkan pemungutan suara akhir terhadap Undang-Undang CLARITY serta peluncuran terbaru status bank trust Ripple, desas-desus ini kini kembali muncul dan semakin memburuk.
Apa yang disembunyikan di balik perjanjian kerahasiaan Ripple?
Oleh karena itu, Schwartz secara jelas menyatakan bahwa tidak ada perjanjian rahasia dengan pemerintah, juga tidak ada rencana rahasia besar tentang XRP di dalam bank sentral, dan menyebut pernyataan semacam itu sebagai "teori konspirasi". Ia mengakui bahwa Ripple memang memiliki ratusan rahasia, tetapi semuanya adalah perjanjian kerahasiaan standar yang ditandatangani oleh mitra perbankan untuk melindungi kepentingan bisnis mereka.
Selain itu, hubungan Ripple dengan bank-bank seperti Deutsche Bank dan Société Générale bersifat transparan, tetapi mereka menggunakan infrastruktur RippleNet terutama untuk pengiriman atau penyelesaian informasi mata uang fiat dan stablecoin (misalnya, yuan). RLUSD, bukan XRP.
Tidak, yang saya maksud adalah ada banyak rahasia. Banyak mitra Ripple menuntut untuk menandatangani perjanjian kerahasiaan untuk memastikan rahasia bisnis mereka terlindungi. Yang saya maksud adalah, teori konspirasi yang terus-menerus mengklaim bahwa sesuatu yang besar segera akan terjadi atau pemerintah akan mengambil tindakan besar hampir selalu...
— David 'JoelKatz' Schwartz (@JoelKatz)23 April 2026
Schwartz juga membantah rumor tentang "kontrak rahasia" terkait XRP yang telah dialokasikan sebelumnya di akun penitipan Ripple, dan mengingatkan investor bahwa sistem penitipan sepenuhnya transparan dan dapat dilacak di blockchain. Investor yang strateginya bergantung pada asumsi bahwa pemerintah bekerja sama secara rahasia dengan Ripple untuk merancang rencana tersembunyi tertentu, mungkin akan memicu beberapa peristiwa. XRP meledak Schwartz menyimpulkan bahwa mereka semua menipu diri sendiri, karena yayasan ini tidak mencerminkan kenyataan.
Tampaknya perusahaan Ripple sangat memperhatikan kualitas kelompok investor mereka. Schwartz secara jelas menunjukkan bahwa berinvestasi berdasarkan emosi dan mencari "sinyal tersembunyi" dalam catatan rapat akan menyebabkan kerugian.
Perusahaan tidak mempromosikan hiperbola, melainkan memilih untuk membentuk citra sebagai penyedia teknologi yang transparan. Bagi pasar tahun 2026, investor institusional lebih mengutamakan prediktabilitas daripada volatilitas spekulatif, dan sikap ini mencerminkan upaya perusahaan untuk menuju kedewasaan serta melepaskan stigma sebagai "meme coin para konspirator".

