Yield Surat Utang Jepang 30 Tahun Mencapai Rekor Tertinggi di Tengah Kekhawatiran Stimulus

iconKuCoinFlash
Bagikan
Share IconShare IconShare IconShare IconShare IconShare IconCopy
AI summary iconRingkasan

expand icon
Yield Obligasi Jepang 30 Tahun Mencapai Rekor Tertinggi di Tengah Kekhawatiran Stimulus dan Menghadapi Pendanaan Terorisme. Obligasi jangka panjang Jepang jatuh pada 24 Desember, mendorong yield jangka panjang ke rekor tertinggi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pembiayaan utang pemerintah untuk rencana stimulus. Yield obligasi pemerintah Jepang 30 tahun naik 2,5 basis poin ke 3,45%, memecahkan rekor terbaru. Yield obligasi 40 tahun naik 1,5 basis poin ke 3,715%. Yield obligasi jangka panjang telah naik tajam sejak awal November karena pasar berspekulasi tentang skala rencana stimulus oleh Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, sementara aset risk-on menguat setelah Bank of Japan menunjukkan kesiapan untuk terus menaikkan suku bunga. Menurut NHK, Jepang sedang bersiap untuk menerbitkan sekitar 29,6 triliun yen ($189,55 miliar) obligasi pemerintah baru untuk anggaran fiskal 2026. Namun, Takaichi menegaskan kembali dalam wawancara dengan Nikkei News pada Selasa bahwa rencana fiskal 'proaktif' nya tidak mencakup penerbitan obligasi yang tidak bertanggung jawab atau pemotongan pajak.

Dikutip dari PANews, obligasi jangka sangat panjang Jepang turun pada 24 Desember, mendorong imbal hasil jangka panjang ke rekor tertinggi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap pembiayaan utang pemerintah untuk rencana stimulus. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang 30 tahun naik 2,5 basis poin menjadi 3,45%, memecahkan rekor terbaru. Imbal hasil 40 tahun naik 1,5 basis poin menjadi 3,715%. Imbal hasil obligasi jangka panjang telah naik tajam sejak awal November seiring spekulasi pasar mengenai skala rencana stimulus oleh Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, sementara imbal hasil jangka pendek naik setelah Bank of Japan menunjukkan kesiapan untuk terus menaikkan suku bunga. Menurut NHK, Jepang bersiap untuk menerbitkan sekitar 29,6 triliun yen ($189,55 miliar) obligasi pemerintah baru untuk anggaran fiskal 2026. Namun, Takaichi menegaskan kembali dalam wawancara dengan Nikkei News pada Selasa bahwa rencana fiskal 'proaktif'-nya tidak mencakup penerbitan obligasi yang tidak bertanggung jawab atau pemotongan pajak.

Penafian: Informasi pada halaman ini mungkin telah diperoleh dari pihak ketiga dan tidak mencerminkan pandangan atau opini KuCoin. Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi umum, tanpa representasi atau jaminan apa pun, dan tidak dapat ditafsirkan sebagai saran keuangan atau investasi. KuCoin tidak bertanggung jawab terhadap segala kesalahan atau kelalaian, atau hasil apa pun yang keluar dari penggunaan informasi ini. Berinvestasi di aset digital dapat berisiko. Harap mengevaluasi risiko produk dan toleransi risiko Anda secara cermat berdasarkan situasi keuangan Anda sendiri. Untuk informasi lebih lanjut, silakan lihat Ketentuan Penggunaan dan Pengungkapan Risiko.