Menurut laporan BlockBeats, pada tanggal 16 Januari, di tengah berlangsungnya aksi protes di dalam negeri Iran dan semakin dalamnya krisis ekonomi, rakyat Iran sedang mempercepat penarikan bitcoin dari platform perdagangan ke dompet pribadi mereka untuk menghindari risiko inflasi dan regulasi keuangan.
Perusahaan analisis blockchain Chainalysis mengungkapkan bahwa sejak protes meletus pada 28 Desember 2025 hingga Iran menerapkan pembatasan internet pada 8 Januari, terjadi peningkatan signifikan dalam transaksi BTC yang dipindahkan dari platform perdagangan lokal Iran ke dompet pribadi yang tidak diketahui, menunjukkan bahwa masyarakat cenderung lebih memilih mengendalikan aset kripto secara langsung selama masa ketidakstabilan.
Analisis menunjukkan bahwa tindakan ini adalah reaksi rasional terhadap ambruknya mata uang Iran, rial Iran (IRR). Data menunjukkan bahwa nilai tukar rial terhadap dolar AS telah merosot tajam dari sekitar 42 pada akhir tahun lalu hingga lebih dari 1.050 pada minggu ini, sehingga daya beli hampir hancur. Bitcoin, dengan sifatnya yang terdesentralisasi, tahan sensor, dan dapat ditransfer lintas batas, dianggap sebagai alat penting untuk melawan depresiasi mata uang dan ketidakpastian politik, serta memberikan masyarakat "kelonggaran dan pilihan".
Chainalysis juga menunjukkan bahwa fenomena ini sesuai dengan pola global: pada masa perang, ketidakstabilan ekonomi, atau tekanan pemerintah, masyarakat cenderung beralih ke mata uang kripto untuk melindungi aset mereka. Perlu dicatat bahwa kekuatan resmi Iran juga semakin meningkatkan penggunaan aset kripto. Laporan menunjukkan bahwa dompet yang terkait dengan Pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada kuartal keempat tahun 2025 menyumbang lebih dari 50% dari total aktivitas kripto yang diterima di Iran, dengan nilai transaksi on-chain sepanjang tahun melebihi 3 miliar dolar AS (yang mungkin masih terhitung rendah).

