Raksasa Media Global Mengadopsi AI dalam Produksi dan Distribusi Berita

iconMetaEra
Bagikan
AI summary iconRingkasan
Perusahaan media global menggunakan AI dalam berita dan alur kerja berita AI + kripto. The New York Times, BBC, dan Washington Post menerapkan AI untuk terjemahan, analisis data, dan konten personalisasi. Podcast AI The Post memungkinkan pengguna menyesuaikan berita, tetapi muncul masalah akurasi. Semua output AI ditinjau oleh editor. Sementara itu, perubahan kebijakan kripto global dan adopsi AI sedang membentuk kembali cara pengguna mengakses dan berinteraksi dengan konten berita.
AI sedang membentuk ulang industri berita: dari analisis data The New York Times, terjemahan AI BBC, hingga podcast personalisasi The Washington Post, media utama luar negeri secara aktif mengadopsi AI dari tiga dimensi: penciptaan, produk, dan distribusi. Meskipun AI secara signifikan meningkatkan efisiensi produksi konten dan inovasi produk, ia juga menghadapi tantangan akurasi dan tekanan penurunan lalu lintas pengguna. Sebagian besar media menekankan bahwa AI hanyalah alat bantu, dan konten harus ditinjau secara manual sebelum diterbitkan; semangat profesionalisme jurnalistik dan kredibilitas tetap menjadi fondasi utama industri ini.

Penulis artikel, sumber: Quanmeipai

Sambil secara aktif merangkul, sambil menerima tantangan.

Pada pertengahan bulan lalu, Reuters menunjuk Jane Barrett sebagai kepala produk Reuters, sebelumnya Jane telah menjabat sebagai kepala strategi AI selama hampir dua tahun. Sumber internal menilai: “Di bawah kepemimpinannya, Reuters secara aktif merangkul kecerdasan buatan: mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja internal, sekaligus mendorong AI untuk meningkatkan pengalaman pengguna.”

Perubahan personel ini sekali lagi mengingatkan bahwa bahkan di media, AI sudah lama bukan lagi proyek inovasi mandiri, dan media luar negeri seperti Reuters sedang mempercepat integrasi AI ke dalam bisnis inti mereka.

Dalam konteks penerapan AI di industri berita, banyak orang memikirkan kemampuannya dalam membantu jurnalis mengumpulkan informasi, memeriksa konten, menerjemahkan naskah, bahkan secara langsung menghasilkan siaran pers. Namun, pada kenyataannya, penerapan AI sudah jauh melampaui tahap produksi berita. Dari alur kerja redaksi hingga inovasi produk berita, hingga cara distribusi berita, AI sedang membentuk ulang model operasional industri berita.

Dalam konteks ini, edisi kali ini dari Quanmeipai fokus pada transformasi industri berita di era AI, dengan mengambil contoh dari praktik media utama luar negeri, serta memperkenalkan dampak industri yang perlu diperhatikan dari AI dalam tiga dimensi: penciptaan, produk, dan distribusi.

Penciptaan berita: Upaya baru dari media utama luar negeri

Kami beralih perhatian ke raksasa media lainnya. Meskipun The New York Times secara jelas menekankan dalam memperkenalkan cara penggunaan produk AI-nya: "Kami tidak menggunakan AI untuk menulis laporan berita, semua konten yang diterbitkan bertanggung jawab oleh jurnalis," dan menunjukkan bahwa penerapan AI dalam produksi berita harus melalui tinjauan manusia, kehati-hatian ini tidak menghambat upaya surat kabar tersebut di bidang AI.

Data publik menunjukkan bahwa penerapan AI di redaksi The New York Times setidaknya telah mencakup:

1. Jumlah analisis

Menggunakan model pembelajaran mesin untuk memproses volume data besar sebagai dukungan. Sebagai contoh, dalam sebuah laporan investigasi tentang peristiwa konflik perang, jurnalis menggunakan alat AI untuk memindai citra satelit, mengidentifikasi lubang peluru, lalu melakukan verifikasi manual oleh jurnalis.

2. Membantu menulis judul dan ringkasan

Editor dapat menggunakan alat AI untuk menghasilkan draf judul berita dan ringkasan artikel. Namun, semua konten harus ditinjau secara manual untuk memastikan kepatuhan terhadap pedoman penggunaan AI internal.

3. Hasilkan terjemahan dan versi audio bantu

Saat ini, sebagian besar konten berita dapat diubah menjadi audio melalui teknologi pengenalan suara otomatis, sementara versi bahasa Spanyol artikel dihasilkan menggunakan model terjemahan AI. Semua konten harus diperiksa oleh tim editor sebelum diterbitkan, sehingga memperluas jangkauan berita.

Dalam penggunaan gambar dan video, The New York Times menekankan: tidak akan memanfaatkan AI untuk memanipulasi foto atau video, maupun membuat gambar yang meniru lokasi berita asli. Jika memuat gambar yang dihasilkan AI, maka akan dijelaskan secara jelas alasan dan cara pembuatannya, serta diberi tanda AI.

Tidak sendirian, Olle Zachrison, kepala AI berita BBC, dalam wawancara pada November tahun lalu, memperkenalkan penerapan AI di dalam BBC. BBC telah menggunakan AI dalam proses produksi berita seperti transkripsi skala besar, pembuatan tag konten, dan terjemahan multibahasa untuk meningkatkan efisiensi produksi konten, di mana terjemahan yang dibantu AI telah menjadi salah satu aplikasi yang matang. Namun, BBC selalu menekankan bahwa tinjauan manusia tetap tak tergantikan untuk memastikan konten berita memenuhi standar editorial media publik.

Dari praktik The New York Times dan BBC, terlihat bahwa AI mampu merangkum dan memproses ulang data, namun perlu membangun sistem kemampuan data yang lebih sistematis.

Ia berpendapat bahwa itu adalah penyusunan dan pemrosesan ulang angka, bukan penemuan berita sejati.

Dari sudut pandang produksi berita, arsip berita itu sendiri bukan sumber berita eksklusif; petunjuk yang benar-benar bernilai sering kali berasal dari data real-time eksternal. Oleh karena itu, lembaga berita di masa depan perlu memperkuat kemampuan sistematis dalam memperoleh dan memproses data eksternal, bukan hanya mengandalkan arsip berita internal.

Produk berita: Media tradisional bermimpi mengembangkan podcast AI

Penerapan AI di media berita mulai menciptakan bentuk produk baru. Di antaranya, podcast AI merupakan arah penting yang dieksplorasi oleh media berita.

Pada Agustus 2025, BBC mengumumkan peluncuran produk podcast sepak bola AI bernama My Club Daily, yang menyediakan berita audio yang disesuaikan bagi penggemar lima klub sepak bola Inggris. Secara khusus, BBC menggunakan ChatGPT untuk menghasilkan naskah siaran berdasarkan berita yang telah diterbitkan sendiri, lalu mengonversi naskah tersebut menjadi audio menggunakan AI.

BBC menekankan bahwa setiap artikel dan audio yang dihasilkan oleh AI akan melalui tinjauan tim editor, dan hanya akan dipublikasikan setelah keakuratannya dikonfirmasi, serta secara jelas memberi tahu pengguna bahwa konten tersebut menggunakan teknologi AI.

Pada bulan Desember tahun yang sama, The Washington Post juga meluncurkan produk podcast berita personalisasi berbasis AI bernama Your Personal Podcast. Saat menggunakan produk ini di aplikasi seluler The Washington Post, pengguna dapat memilih topik berita, pembawa acara, dan durasi pemutaran sesuai minat mereka untuk membuat podcast berita yang dipersonalisasi. Bailey Kattleman, kepala produk dan desain The Washington Post, menyatakan bahwa tujuan podcast AI ini adalah memungkinkan pengguna mendapatkan informasi berita dengan cara yang lebih fleksibel.

Produk ini dikembangkan oleh The Washington Post bekerja sama dengan perusahaan AI suara Eleven Labs, yang sebelumnya menyediakan layanan generasi audio artikel untuk media seperti Time dan The Atlantic. Bailey, pemimpin proyek, berpendapat bahwa bentuk podcast ini membantu The Washington Post menjangkau audiens yang lebih luas, terutama kalangan muda, lebih beragam, dan ingin mendapatkan berita dengan cara yang lebih menarik. Andrew Deck, penulis dari Nieman Journalism Lab, juga menyatakan bahwa upaya The Washington Post ini merupakan inovasi yang cukup berani di antara media tradisional Amerika.

Secara spesifik, sistem akan memilih dan menggabungkan sekitar 4 berita utama berdasarkan riwayat membaca dan mendengarkan pengguna di App serta topik yang diikuti, lalu menyajikannya melalui percakapan santai oleh dua host AI, dengan setiap berita berdurasi tidak lebih dari 2 menit, dan kontennya diperbarui secara real-time sesuai dengan berita hari itu.

Sambil itu, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pengguna juga dapat menyesuaikan konten podcast lebih lanjut, termasuk memilih topik favorit mereka, peran host AI, dan durasi podcast (4-8 menit). Oleh karena itu, berbeda dengan podcast tradisional yang menggunakan topik, host, dan durasi yang seragam, dengan bantuan AI, produk ini dapat menghasilkan konten berita yang dipersonalisasi sesuai minat masing-masing pengguna, berpindah dari “satu-ke-banyak” menuju “satu-ke-satu”.

Sumber gambar: The Washington Post

Produk podcast AI ini secara teknis sangat inovatif dan langsung menarik perhatian luas sejak peluncurannya, tetapi juga mendapat kritik terkait akurasi kontennya, bahkan pernah salah membaca nama jurnalis.

Menurut karyawan internal The Washington Post, produk ini pernah mengalami berbagai kesalahan, termasuk kutipan yang salah atau dibuat-buat, serta penambahan komentar tambahan, misalnya salah memahami pandangan sumber sebagai posisi The Washington Post. Oleh karena itu, The Washington Post juga memberikan peringatan dalam Aplikasi agar pengguna memverifikasi informasi podcast dengan memeriksa laporan aslinya.

Selain itu, serikat yang mewakili karyawan The Washington Post dalam wawancara dengan NPR menyatakan kekhawatiran mereka terhadap produk baru ini dan cara peluncurannya, yang dianggap akan melemahkan misi jurnalistik The Washington Post serta nilai profesional para jurnalis. Serikat juga menunjukkan bahwa The Washington Post selalu memperbaiki kesalahan dalam pelaporan beritanya, sehingga mereka mempertanyakan: "Mengapa mendukung teknologi yang menerapkan standar lebih rendah?"

Oleh karena itu, satu pertanyaan yang patut diperhatikan adalah: mengapa media berita berani mengambil risiko untuk meluncurkan podcast AI?

Gabriel Soto, Direktur Riset di Edison Research, perusahaan riset pasar Amerika, berpendapat bahwa salah satu alasan utama adalah keunggulan biaya. Podcast AI mengurangi kebutuhan sumber daya manusia dan material dalam proses produksi podcast tradisional, seperti penulis naskah, editor, host, dan studio rekaman.

Andrew Deck, seorang ahli industri, memperkirakan bahwa jika eksperimen ini oleh The Washington Post berhasil, surat kabar tersebut berpotensi memperluas produk berita audio-nya dengan biaya lebih rendah. Namun, Bailey Kattlema, kepala produk dan desain The Washington Post, menekankan bahwa produk podcast AI ini bukan dimaksudkan untuk menggantikan podcast tradisional. Menurutnya, podcast tradisional tetap memiliki nilai unik dan bertahan lama.

Dari BBC hingga The Washington Post, kita dapat melihat bahwa AI sedang mendorong produk berita berkembang dari bentuk konten tunggal dan seragam menuju arah yang dipersonalisasi dan interaktif. Sambil itu, bagaimana memastikan akurasi konten berita dan mempertahankan kredibilitas media juga menjadi tantangan yang harus dihadapi media di era AI.

Distribusi berita: Apakah ada potensi menggunakan platform AI untuk melihat informasi berita?

AI merekonstruksi cara pengguna mendapatkan berita, mungkin hanya masalah waktu: seiring alat AI semakin terintegrasi ke dalam kehidupan digital sehari-hari, semakin banyak pengguna yang mulai menggunakan platform AI secara langsung untuk mendapatkan berita.

Menurut Laporan Berita Digital Reuters 2026, jumlah orang yang menggunakan chatbot AI untuk mendapatkan informasi berita setiap minggu terus meningkat, dengan proporsi naik menjadi 10%. Meskipun saat ini kelompok ini masih minoritas, seiring dengan cepatnya adopsi AI, alat-alat semacam ini kemungkinan besar akan menjadi saluran pengambilan berita yang semakin penting di masa depan, terutama bagi kalangan muda dan individu dengan tingkat partisipasi berita tinggi.

Secara khusus, pengguna tidak hanya mendapatkan ringkasan berita saat menggunakan AI, tetapi juga memanfaatkan AI lebih lanjut untuk menguraikan dan menganalisis informasi, membantu mereka memahami peristiwa berita. Ini berarti AI telah berubah dari sekadar saluran informasi menjadi alat bantu kognitif yang membantu pengguna memahami peristiwa berita secara mendalam.

Perubahan ini justru memberikan arah baru bagi media berita. Misalnya, semakin banyak pengguna yang menginginkan konten berita lebih ringkas dan mudah dipahami, yang menunjukkan bahwa media berita dapat lebih baik memenuhi kebutuhan audiens yang memiliki waktu terbatas melalui gaya penulisan yang lebih jelas serta bentuk-bentuk seperti newsletter berita. Seiring itu, pengguna semakin menyukai pertanyaan lebih lanjut seputar informasi berita, yang juga memberikan ruang berkembang bagi produk konten eksplanatori seperti pelaporan interpretatif.

Namun, ada beberapa kebutuhan yang tidak mudah dipenuhi oleh media berita. Salah satu keunggulan utama chatbot AI adalah kemampuannya untuk memberikan jawaban personalisasi cepat sesuai kebutuhan setiap pengguna, sesuatu yang sulit dicapai oleh media berita tunggal. Oleh karena itu, media berita sebaiknya tidak sekadar meniru fungsi AI umum, melainkan fokus pada nilai berita yang tak tergantikan milik mereka sendiri.

Sementara itu, mekanisme distribusi platform AI juga memicu konflik baru. Pada tahun 2025, grup media AS Penske Media Corporation, yang memiliki merek media terkenal seperti Rolling Stone dan The Hollywood Reporter, menggugat Google, menuduh fitur ringkasan AI-nya menggunakan konten berita tanpa izin untuk menghasilkan jawaban, sehingga memengaruhi lalu lintas situs berita dan pendapatan iklan.

Di sisi lain, lembaga berita juga sedang mengeksplorasi jalur kerja sama dengan platform AI. Sebagai contoh, OpenAI telah mencapai perjanjian lisensi konten dengan media seperti The Washington Post, Financial Times, dan The Atlantic untuk mendorong penggunaan lisensi konten berita di platform AI. The Washington Post menyatakan bahwa kerja sama semacam ini dapat meningkatkan daya penyebaran konten beritanya.

Berbeda dengan perubahan cara produksi dan penyajian berita, ketika lebih banyak orang tidak hanya bertanya dan membantu pekerjaan melalui platform AI, tetapi juga bersedia memperoleh informasi berita melalui platform tersebut, apa artinya ini bagi platform media yang sebelumnya menyediakan informasi berita? Ini kemungkinan besar menjadi pertanyaan yang perlu dipikirkan oleh sebagian besar media yang menyediakan laporan orisinal berikutnya.

Industri berita di era AI: Peluang dan tantangan berjalan beriringan

Dari sudut pandang produksi berita, AI memungkinkan media berita untuk menghasilkan konten berita yang lebih beragam dalam bentuk dan versi bahasa dengan sumber daya manusia terbatas, sehingga meningkatkan efisiensi dan jangkauan produksi berita; dari sudut pandang produk berita, AI juga mendorong pengembangan produk berita yang personal dan interaktif dengan biaya lebih rendah, memenuhi kebutuhan berbagai audiens dengan lebih baik, serta memperluas jangkauan konten berita.

Sementara itu, perkembangan AI juga memicu perdebatan di dalam dan luar industri mengenai “apakah AI akan menggantikan jurnalis.” Namun, berdasarkan praktik lembaga berita utama luar negeri di atas, bagi lembaga berita yang mengutamakan nilai berita dan kredibilitas media, AI berperan sebagai alat bantu, bukan sebagai subjek utama produksi berita. Sebagian besar media secara jelas menetapkan bahwa konten yang dihasilkan AI harus melalui tinjauan manusia sebelum diterbitkan; pada dasarnya, kemampuan AI tetap didasarkan pada pengalaman panjang yang dikumpulkan manusia, dan nilainya terletak pada peningkatan efisiensi, bukan penggantian pekerja berita.

Namun, ketika kita melihat tahap distribusi berita, kita dapat melihat bahwa AI juga membawa tantangan baru bagi media berita. Seiring semakin banyak pengguna yang langsung mendapatkan informasi melalui alat AI, keinginan pengguna untuk mengklik tautan artikel asli akan menurun, sehingga lalu lintas situs berita tradisional akan berkurang. Ini berarti media berita harus menghadapi masalah penurunan pendapatan dari langganan konten dan iklan, yang memberikan tekanan baru terhadap model bisnis jangka panjang mereka.

Tentu, tantangan sering kali disertai peluang. Menghadapi perkembangan platform AI, lembaga berita mulai mengeksplorasi model kolaborasi baru, dengan cara memberikan lisensi konten, untuk memperluas pengaruh konten berita dalam ekosistem AI dan mencari ruang pertumbuhan baru. Di masa depan, media berita perlu memikirkan tidak hanya bagaimana memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi produksi dan menciptakan produk berita inovatif, tetapi juga bagaimana terus menonjolkan nilai profesional yang tak tergantikan dalam tatanan penyebaran informasi baru.

Mengulas perkembangan industri berita, dari era media cetak, hingga munculnya portal digital dan era pencarian di internet, kemudian era media sosial seluler, hingga kini memasuki era AI, setiap perubahan teknologi media mendorong industri berita terus menyesuaikan model pengembangannya, serta tak terhindarkan mengalami kesulitan transisi. Teknologi berubah, cara produksi berubah, bentuk penyebaran berubah, dan kebiasaan audiens dalam memperoleh berita pun berubah, tetapi nilai inti berita tetap tak berubah—melaporkan fakta-fakta terbaru secara akurat dan tepat waktu.

AI tidak akan mengubah esensi berita, tetapi sedang membentuk ulang cara produksi, bentuk produk, dan lingkungan penyebaran industri berita. Bagi industri berita, hal yang benar-benar perlu dipertahankan bukanlah teknologi atau saluran penyebaran tertentu, melainkan semangat profesional, tanggung jawab sosial, dan kredibilitas berita—yang tetap menjadi fondasi utama industri berita.

Penafian: Informasi pada halaman ini mungkin telah diperoleh dari pihak ketiga dan tidak mencerminkan pandangan atau opini KuCoin. Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi umum, tanpa representasi atau jaminan apa pun, dan tidak dapat ditafsirkan sebagai saran keuangan atau investasi. KuCoin tidak bertanggung jawab terhadap segala kesalahan atau kelalaian, atau hasil apa pun yang keluar dari penggunaan informasi ini. Berinvestasi di aset digital dapat berisiko. Harap mengevaluasi risiko produk dan toleransi risiko Anda secara cermat berdasarkan situasi keuangan Anda sendiri. Untuk informasi lebih lanjut, silakan lihat Ketentuan Penggunaan dan Pengungkapan Risiko.