Media asing berpendapat bahwa jika Amerika Serikat mendorong undang-undang CLARITY, hal itu dapat memperbaiki ekspektasi regulasi bagi industri kripto, sehingga token seperti XRP yang sebelumnya lama terpengaruh oleh kontroversi regulasi mungkin lebih mudah mendapatkan perhatian modal. Artikel tersebut juga menunjukkan bahwa ketegangan geopoliitik terbaru, tekanan inflasi, dan penyempitan likuiditas pasar masih menekan kinerja aset berisiko termasuk XRP.
XRP sebelumnya jangka panjang terhambat oleh gugatan

Artikel tinjauan menyatakan bahwa SEC menggugat Ripple pada Desember 2020, menuduhnya menjual sekuritas yang tidak terdaftar. Gugatan ini sempat menjadi sumber tekanan utama bagi XRP di pasar Amerika Serikat, sehingga kinerjanya lebih lemah dibandingkan sebagian besar token utama selama siklus bull crypto sebelumnya.
Media asing percaya bahwa XRP lebih sensitif terhadap perubahan kebijakan regulasi. Hal ini disebabkan aset ini selama beberapa tahun terakhir selalu terkait dengan kontroversi regulasi AS, sehingga pasar biasanya bereaksi lebih langsung terhadap sinyal legislatif dan penegakan hukum terkait.
Undang-undang diharapkan menjadi katalis emosional
Menurut artikel tersebut, makna Undang-Undang CLARITY adalah memberikan kerangka regulasi yang lebih jelas bagi industri kripto. Jika undang-undang ini maju, ekspektasi kepatuhan investor terhadap proyek kripto lokal AS mungkin meningkat, dan XRP juga dapat mendapat manfaat darinya.
Artikel tersebut menyebutkan bahwa XRP pernah mencapai tertinggi historis sebesar $3,65 pada Juli 2025 karena berita penyelesaian gugatan antara Ripple dan SEC. Kasus ini digunakan untuk menunjukkan bahwa ketika ketidakpastian regulasi mereda, elastisitas harga XRP cenderung lebih jelas.
- Desember 2020: SEC menggugat Ripple
- Juli 2025: XRP pernah naik ke $3,65
- Titik terendah terbaru: Artikel menyatakan bahwa XRP sempat jatuh ke $1,15
Tekanan makroekonomi belum juga mereda
Namun, artikel tersebut tidak memandang prospek undang-undang sebagai satu-satunya faktor penentu. Artikel tersebut berpendapat bahwa meningkatnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran, tekanan inflasi naik, serta perpindahan dana menjelang IPO besar masih berpotensi terus memengaruhi preferensi risiko keseluruhan pasar kripto.
Artikel tersebut menyebutkan bahwa ekspektasi IPO SpaceX, Anthropic, dan OpenAI berpotensi menarik sebagian dana keluar dari pasar kripto. Media asing menyimpulkan bahwa meskipun lingkungan regulasi membaik, kinerja XRP selanjutnya tetap akan dipengaruhi oleh kondisi makro dan likuiditas yang lebih luas.

