Menurut laporan dari BlockBeats, pada Senin pagi Asia tanggal 19 Januari, pasar kripto tiba-tiba mengalami koreksi secara bersamaan. Setelah Bitcoin mencapai level tertinggi minggu ini sebesar 97.000 dolar AS, harganya langsung turun dengan cepat, bahkan sempat melemah di bawah 92.000 dolar AS dalam sesi perdagangan. Ethereum kehilangan level 3.200 dolar AS, sementara Solana juga melemah di bawah level 140 dolar AS. Data dari Coinglass menunjukkan bahwa dalam 4 jam terakhir, total kerugian akibat liquidasi di seluruh jaringan mencapai sekitar 593 juta dolar AS, dengan sebagian besar berasal dari posisi long (membeli), menunjukkan bahwa sentimen pasar saat ini sedang mengalami tekanan yang signifikan.
Analisis menunjukkan bahwa di balik "Black Monday" kali ini, ketidakpastian terkait Trump kembali menjadi faktor pemicu. Di satu sisi, ekspektasi bahwa kandidat ketua The Fed yang baru akan berubah dari "burung hantu" (dovish) menjadi "burung elang" (hawkish) semakin memanas. Di sisi lain, sengketa terkait Greenland dan gesekan tarif antara Eropa dan Amerika Serikat kembali muncul, ditambah dengan hambatan terhadap RUU pro-kripto CLARITY di Senat, sehingga preferensi risiko jangka pendek dengan cepat menurun.
Analisis BiyaPay menunjukkan bahwa saat ini lebih mirip dengan koreksi emosional yang dipicu oleh penarikan keuntungan di tingkat harga tinggi, bukan pembalikan tren. Dalam lingkungan volatilitas tinggi, investor dapat menggunakan BiyaPay untuk secara fleksibel berpartisipasi dalam perdagangan saham AS, saham Hong Kong, opsi, dan aset kripto dengan USDT, serta secara dinamis menyesuaikan posisi antar berbagai aset untuk menghadapi dampak dari ketidakpastian kebijakan dan makro.




