Undang-Undang Crypto Clarity, sebuah undang-undang signifikan AS mengenai struktur pasar kripto, menghadapi potensi kegagalan karena masalah etika yang menghambat kemajuanannya di Senat. RUU ini, yang telah disetujui oleh Dewan Perwakilan dan lolos dari Komite Perbankan Senat, kini menunggu pemungutan suara penuh di Senat. Namun, diskusi terbaru terhenti akibat usulan pembatasan etika, terutama yang memengaruhi pejabat pemerintah, termasuk Presiden Trump. Hal ini menyebabkan perpecahan antara Republikan dan Demokrat di Senat, dengan pihak Demokrat menuntut ketentuan etika yang lebih kuat. Penundaan ini menimbulkan keraguan atas kemampuan RUU ini untuk maju sebelum akhir tahun, dengan para pelaku pasar menyesuaikan ekspektasi mereka secara tepat.
Poin Utama
- Harga menunjukkan penurunan signifikan dalam kepercayaan bahwa Undang-Undang Clarity akan ditandatangani menjadi undang-undang pada 2026, kini dihargai 32% YES.
- Kemacetan saat ini di Senat terutama disebabkan oleh perbedaan pendapat mengenai bahasa etika, yang menyoroti perpecahan politik.
- Penundaan legislatif ini terjadi di tengah sengketa yang belum terselesaikan yang lebih luas mengenai imbal hasil stablecoin dan tanggung jawab DeFi, yang semakin menambah ketidakpastian.
Apa yang Harus Diperhatikan
Pengamat akan memantau erat perkembangan dari tokoh-tokoh politik kunci seperti Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer dan sikap Presiden Trump terhadap ketentuan etika. Pernyataan atau tindakan dari tokoh-tokoh berpengaruh seperti Menteri Keuangan Scott Bessent dan Penasihat Kripto Gedung Putih David Sacks juga dapat memengaruhi sentimen pasar. Sesi Senat mendatang dan negosiasi bipartisan apa pun akan sangat penting dalam menentukan apakah Undang-Undang Clarity dapat mengatasi hambatan saat ini dan maju menuju pemungutan suara.
Dapatkan analisis pasar prediksi langsung, didukung oleh Vera. Daftar untuk Vera.


