Alasan keputusan tersebut adalah wawancara terbaru interview Kramer dengan CEO perusahaan teknologi IBM, Arvind Krishna, yang memperingatkan pembawa acara bahwa komputer kuantum mampu menantang standar enkripsi modern. Krishna menyarankan para investor untuk memperlakukan risiko ini dengan "paranoia".
«Arvind Krishna sangat memahami teknologi kuantum... Dia tahu tentang Bitcoin dan komputasi kuantum. Itulah sebabnya saya akan menjual Bitcoin saya», kata Kramer, meskipun ia tidak mengungkapkan jumlah koin yang dimilikinya.
Bitcoin sendiri tidak memperhatikan pernyataan Kramer dan tetap bernegosiasi di atas $64.000. Volume perdagangan harian kripto pertama turun 11% menjadi $23,3 miliar. Mengingat ramalan Kramer jarang terwujud, muncul indikator Bitcoin informal bernama Inverse Cramer yang mengajak investor memandang pernyataan presenter TV tersebut sebagai sinyal untuk bertindak sebaliknya — membeli saat ia menyarankan menjual, dan sebaliknya.
Pada Desember 2017, ketika bitcoin pertama kali mendekati $20.000, pembawa utama CNBC menyebutnya sebagai "uang dari Monopoli" dan membandingkan pembelian cryptocurrency dengan perjudian. Namun pada akhir 2020, Kramers menyatakan bahwa ia membeli bitcoin seharga $10.000, dan kemudian meningkatkan posisinya. Namun optimisme-nya terhadap bitcoin berlangsung singkat: pada musim panas 2021, pembawa Mad Money menjual sebagian besar koinnya karena larangan penambangan bitcoin di Tiongkok.
Menjelang peluncuran dana perdagangan saham (ETF) bitcoin spot di AS pada Januari 2024, Kramers memperingatkan kemungkinan koreksi. Cryptocurrency memang sempat turun sejenak ke $40.000, namun segera melonjak tajam di atas $70.000. Kemudian, posisi Kramers berubah lagi — ia menyebut bitcoin sebagai aset unggulan yang layak dimasukkan ke dalam portofolio investasi. Namun pada Juli 2026, ia kembali mengambil posisi bearish, menyebut bitcoin dan emas sebagai “uang buruk” — di tengah arus keluar modal investor ke saham perusahaan berkembang pesat seperti SpaceX.
Tahun lalu, Kramer akui bahwa cryptocurrency menjadi semakin berpengaruh terhadap saham perusahaan Amerika, khususnya indeks saham S&P 500 yang mencakup saham 500 perusahaan publik terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar.

