BlockBeats melaporkan, pada 2 Juni, bitcoin sempat jatuh ke level terendah sejak 7 April, dengan penurunan harian lebih dari 4% dan penurunan kumulatif sekitar 8% dalam tujuh hari terakhir. Sebaliknya, pasar saham AS terus mencatat rekor tertinggi baru, dengan indeks S&P 500 berada di atas 7.600 poin dan indeks Nasdaq menembus 27.000 poin, menunjukkan perbedaan tren antara pasar kripto dan aset risiko tradisional semakin melebar.
Andri Fauzan Adziima, Kepala Riset Bitrue Research Institute, menyatakan bahwa saat ini bitcoin hampir menjadi satu-satunya aset dalam kelas aset utama yang mengalami kontraksi jelas, mencerminkan bahwa pasar memandangnya sebagai aset risiko high beta yang dipengaruhi oleh sentimen risiko makroekonomi, bukan sebagai alat lindung nilai independen. Namun, ia percaya bahwa penyimpangan ini lebih merupakan fenomena siklus, dan bitcoin masih berpotensi kembali menunjukkan kinerja relatif kuat setelah kondisi makroekonomi membaik.
Lembaga analisis on-chain Santiment menunjukkan bahwa perbedaan kinerja antara pasar saham tradisional dan pasar kripto semakin sulit diabaikan oleh investor. Karena pasar saham AS terus menyediakan pengembalian lebih tinggi dan volatilitas lebih rendah, sebagian dana sedang berpindah dari pasar Bitcoin dan altcoin ke pasar saham, menciptakan efek rotasi modal. Namun, lembaga ini juga menekankan bahwa ketika suasana pasar secara umum mengalami "FOMO saham, FUD kripto", hal ini sering kali menandakan bahwa ekspektasi pasar telah mulai condong terlalu ekstrem ke satu sisi. Pengalaman historis menunjukkan bahwa pergerakan pasar sering kali berlawanan dengan ekspektasi mayoritas investor.
Dari sudut pandang teknis, Bitcoin sedang mendekati area sekitar $69.000 pada garis rata-rata bergerak eksponensial 200 minggu (EMA). Posisi ini telah lama dianggap sebagai level support penting dalam siklus bull dan bear, dan kemampuan untuk mempertahankan kunci ini akan menjadi fokus utama pasar.

