Apple sempat menyentuh kapitalisasi pasar senilai $5 triliun pada 28 Juli, menjadikannya perusahaan publik kedua dalam sejarah yang mencapai ketinggian tersebut. Saham mencapai puncaknya di $342,89 selama sesi, naik 1,8% dalam sehari, sebelum menurun dan menutup di kisaran $4,98 hingga $4,99 triliun.
Untuk memberikan gambaran angka tersebut: $5 triliun lebih besar daripada PDB Jepang. Patokan ini tercapai kurang dari satu tahun setelah Apple pertama kali melewati ambang $4 triliun pada Oktober 2025. Saham Apple naik hampir 60% dalam 12 bulan terakhir dan sekitar 24-25% sepanjang tahun ini. Kenaikan ini didorong oleh permintaan iPhone yang kuat, pertumbuhan berkelanjutan di segmen layanan perusahaan, dan pasar yang semakin memberi insentif terhadap arus kas yang stabil dibandingkan investasi AI yang padat modal.
Apple sempat merebut kembali gelar perusahaan paling berharga di dunia dari Nvidia selama sesi perdagangan yang sama. Nvidia tetap menjadi anggota lain dari klub $5 triliun, dan kedua perusahaan ini mewakili teori investasi yang secara fundamental berbeda: satu adalah taruhan pada lanjutan percepatan pengeluaran infrastruktur AI, yang lain adalah taruhan pada loyalitas konsumen dan pendapatan layanan yang terus bertumbuh.
Perdagangan Apple yang ditokenisasi
Apple sendiri tidak memegang bitcoin atau aset digital di neracanya, setidaknya menurut laporan regulasi apa pun. Versi ter-tokenisasi dari saham AAPL tersedia di beberapa platform blockchain, berfungsi sebagai aset sintetis yang mencerminkan pergerakan harga saham tersebut. Ketika Apple mencapai tonggak $5 triliun, token sintetis tersebut juga mengalami lonjakan volume.
Apple juga terus menyediakan berbagai aplikasi dompet kripto di App Store-nya, mempertahankan hubungan pragmatis dengan ekosistem aset digital. Perusahaan ini berfungsi sebagai lapisan antarmuka antara ratusan juta pengguna iPhone dan layanan berbasis blockchain, meskipun tidak memegang kripto di neracanya sendiri.
