Menurut laporan BlockBeats, pada 6 Januari, tindakan terbaru Amerika Serikat terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro kembali memicu perdebatan mengenai apakah Venezuela memiliki "cadangan Bitcoin yang belum diungkapkan". Jurnalis penyelidik Bradley Hope mengklaim bahwa pemerintah Venezuela mungkin telah mengubah emas menjadi Bitcoin selama bertahun-tahun, dengan potensi jumlah hingga 600.000 BTC, senilai sekitar 60 miliar dolar AS.
Namun, beberapa lembaga analisis blockchain utama belum menemukan bukti apa pun di rantai yang mendukung klaim tersebut. 600.000 BTC yang diajukan Hope tidak didasarkan pada data rantai, melainkan merupakan perhitungan matematis berdasarkan volume penjualan emas Venezuela sejak 2018.
Frank Weert, salah satu pendiri Whale Alert, mengatakan bahwa jika Venezuela benar-benar memegang jumlah Bitcoin sebesar itu, hampir mustahil untuk sepenuhnya menghindari pemantauan lembaga analisis blockchain, dan klaim terkait membutuhkan "bukti yang sangat kuat".
Meskipun demikian, para analis menunjukkan bahwa Venezuela memang telah lama mencoba menggunakan mata uang kripto. Negara tersebut pernah meluncurkan mata uang digital nasional yang dipegang oleh minyak bernama Petro, dan menggunakan pembayaran berbasis kripto dalam sektor energi serta transaksi lintas batas. Dampak dari inflasi tinggi pada mata uang lokalnya, Venezuela menempati posisi 20 teratas dalam peringkat adopsi mata uang kripto global pada tahun 2025.
Saat ini, kondisi kepemilikan aset kripto resmi Venezuela tetap sangat tidak transparan. Beberapa lembaga, termasuk Arkham, Chainalysis, dan Elliptic, belum dapat mengonfirmasi adanya dompet bitcoin besar yang secara langsung terkait dengan pemerintah. Para analis meyakini bahwa jika aset-aset tersebut memang ada, kemungkinan besar telah disembunyikan secara intensif melalui pencucian uang (mixer), transaksi lintas rantai, dan saluran OTC (over-the-counter) di luar negeri.

