AI Ready ASEAN Berkembang untuk Melatih 250.000 Orang pada 2028

iconCoinEdition
Bagikan
Share IconShare IconShare IconShare IconShare IconShare IconCopy
AI summary iconRingkasan

expand icon
Berita AI + kripto: Indonesia telah memperluas program AI Ready ASEAN melalui kesepakatan baru dengan ASEAN Foundation. Inisiatif ini akan melatih 250.000 orang di Asia Tenggara hingga 2028 melalui kursus online, lokakarya, dan kampanye kesadaran. Program ini berfokus pada keterampilan digital, penggunaan teknologi yang bertanggung jawab, dan keterlibatan komunitas. Wakil Menteri Nezar Patria menekankan pentingnya kerja sama regional untuk mendorong adopsi AI. Berita on-chain dan perkembangan AI terus membentuk lanskap teknologi wilayah ini.
  • Program AI Ready ASEAN akan melatih 250.000 orang lagi di Asia Tenggara pada tahun 2028.
  • Indonesia menghubungkan pelatihan AI dengan ekonomi digital ASEAN yang diproyeksikan mencapai $1 triliun pada 2030.
  • Gulf Development merencanakan pengeluaran $4,3 miliar untuk menambah kapasitas pusat data AI di Thailand.

Indonesia telah memperluas kerja sama regional dalam AI melalui kesepakatan baru dengan ASEAN Foundation. Program ini akan melatih 250.000 orang lagi di seluruh Asia Tenggara melalui kursus online, lokakarya, dan kegiatan kesadaran publik pada tahun 2028.

Indonesia dan ASEAN Foundation mengumumkan nota kesepahaman di Jakarta pada Kamis, 4 Juni 2026. Wakil Menteri Indonesia Nezar Patria mengatakan negara-negara ASEAN membutuhkan kerja sama yang lebih kuat seiring perkembangan teknologi baru di sektor publik dan swasta.

Keterampilan ASEAN Siap AI

Menurut sebuah laporan, kesepakatan tersebut memperluas program AI Ready ASEAN. Inisiatif ini akan berfokus pada keterampilan digital praktis, penggunaan teknologi yang bertanggung jawab, dan kesadaran yang lebih luas di kalangan masyarakat di seluruh negara anggota.

Pelatihan akan diberikan melalui pelajaran online modular, lokakarya tatap muka, dan kampanye publik. Struktur ini dirancang untuk menjangkau peserta dengan berbagai tingkat pengalaman digital.

Patria mengatakan program tersebut mencerminkan kebutuhan akan tindakan terkoordinasi di seluruh wilayah. Ia mengatakan negara-negara ASEAN harus bekerja sama untuk memajukan adopsi AI dan berbagi pengetahuan.

Pejabat mengatakan negara-negara anggota menghadapi hambatan serupa dalam penelitian, infrastruktur, dan kesiapan tenaga kerja. Tantangan-tantangan tersebut meningkatkan kebutuhan akan program-program regional yang dapat mendukung pekerja, siswa, dan lembaga publik.

Inisiatif ini juga menempatkan penggunaan yang bertanggung jawab sebagai inti pelatihan. Peserta akan belajar bagaimana AI dapat digunakan dalam pekerjaan sehari-hari, pendidikan, dan layanan publik sambil memahami risiko etis.

Program yang diperluas ini datang seiring pertumbuhan ekonomi digital Asia Tenggara yang terus berlanjut. Ekonomi digital kawasan ini diproyeksikan mencapai $1 triliun pada tahun 2030.

Indonesia diharapkan menyumbang sekitar $366 miliar dari total tersebut. Proyeksi itu telah menarik perhatian lebih besar pada pengembangan keterampilan di ekonomi terbesar kawasan itu.

Patria mengatakan ASEAN harus dilihat sebagai wilayah yang terhubung melalui budaya, politik, dan teknologi. Ia mengatakan negara-negara anggota dapat berbagi pengalaman, sistem, dan kemampuan saat mereka mengembangkan alat-alat digital baru.

Program AI Ready ASEAN telah menjangkau audiens luas sejak peluncurannya pada 2024. Menurut Yayasan ASEAN, lebih dari 5,3 juta orang telah bergabung dalam kegiatan yang terkait dengan literasi AI dan penggunaan yang bertanggung jawab.

Gulf Development Menargetkan Pertumbuhan Infrastruktur AI

Upaya regional ini sedang berlangsung seiring perusahaan-perusahaan di Asia Tenggara memperluas infrastruktur untuk layanan komputasi awan dan AI. Di Thailand, Gulf Development Pcl berencana melakukan investasi besar dalam pusat data dan sistem pendukungnya.

Sarath Ratanavadi, orang terkaya di Thailand, berencana menghabiskan hingga 140 miliar baht, atau sekitar $4,3 miliar, melalui Gulf Development dalam lima tahun ke depan. Perusahaan ini bertujuan untuk memenuhi permintaan yang meningkat akan kapasitas data.

Chief Financial Officer Yupapin Wangviwat mengatakan Gulf Development berencana menambah kapasitas pusat data hingga 2.000 megawatt. Perusahaan dan mitranya saat ini mengoperasikan fasilitas dengan kapasitas gabungan sekitar 200 megawatt.

Wangviwat mengatakan AI dan komputasi awan adalah peluang pertumbuhan utama bagi perusahaan. Ia mengatakan bisnis listriknya memberikan keunggulan bagi Gulf Development karena pusat data membutuhkan pasokan listrik yang stabil.

Saham Gulf Development naik hingga 5,8% ke level rekor pada hari Kamis. Gerakan ini membuat saham tersebut berada di jalur untuk meningkatkan keuntungan tahun ini di atas 61%.

Terkait: Bagaimana Agen AI Menjadi Co-Pilot Trader Kripto di Tahun 2026

Penafian: Informasi yang disajikan dalam artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan pendidikan. Artikel ini tidak merupakan nasihat keuangan atau nasihat apa pun. Coin Edition tidak bertanggung jawab atas kerugian apa pun yang timbul akibat penggunaan konten, produk, atau layanan yang disebutkan. Pembaca disarankan untuk berhati-hati sebelum mengambil tindakan apa pun yang terkait dengan perusahaan.

Penafian: Informasi pada halaman ini mungkin telah diperoleh dari pihak ketiga dan tidak mencerminkan pandangan atau opini KuCoin. Konten ini disediakan hanya untuk tujuan informasi umum, tanpa representasi atau jaminan apa pun, dan tidak dapat ditafsirkan sebagai saran keuangan atau investasi. KuCoin tidak bertanggung jawab terhadap segala kesalahan atau kelalaian, atau hasil apa pun yang keluar dari penggunaan informasi ini. Berinvestasi di aset digital dapat berisiko. Harap mengevaluasi risiko produk dan toleransi risiko Anda secara cermat berdasarkan situasi keuangan Anda sendiri. Untuk informasi lebih lanjut, silakan lihat Ketentuan Penggunaan dan Pengungkapan Risiko.