Jeff Bezos di konferensi teknologi VivaTech di Paris menyatakan bahwa ia tidak setuju dengan pandangan bahwa "AI akan menyebabkan pengangguran massal." Menurutnya, AI menurunkan ambang batas banyak pekerjaan, justru melepaskan lebih banyak permintaan, dan pada akhirnya mungkin terjadi "kekurangan tenaga kerja," bukan hilangnya pekerjaan.
Ini bukan pertama kalinya dia menyampaikan pandangan serupa secara terbuka. Sebelumnya, dalam wawancara, Bezos juga membandingkan AI dengan peningkatan dari sekop ke bulldozer, berpendapat bahwa teknologi akan meningkatkan efisiensi manusia, bukan sekadar menggantikan manusia. Dalam pernyataan kali ini, ia melanjutkan penilaian ini dengan menyatakan bahwa hampir tidak ada batasan pada apa yang ingin dilakukan manusia; yang benar-benar membatasi output adalah alat dan biaya.
Bertentangan dengan kekhawatiran industri
Pernyataan Bezos tidak sejalan dengan kekhawatiran umum di masyarakat dan industri teknologi Amerika saat ini. Survei yang dirilis oleh Reuters dan Ipsos bulan ini menunjukkan bahwa sekitar setengah responden Amerika khawatir AI dapat menyebabkan mereka atau keluarga mereka kehilangan pekerjaan. Pejabat Federal Reserve juga sebelumnya memperingatkan bahwa AI dapat menyebabkan “pertumbuhan tanpa penciptaan lapangan kerja”.
Di kalangan eksekutif perusahaan teknologi, ada pula yang memiliki sikap lebih hati-hati terhadap dampak tersebut. CEO Anthropic, Dario Amodei, sebelumnya menyebut bahwa pekerjaan kantor kemungkinan akan mengalami penyesuaian yang “sangat menyakitkan”. Sementara itu, perusahaan-perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic juga sedang menyesuaikan penyampaian publik mereka saat memperjuangkan pendanaan dan go public di pasar modal.
Latar belakang yang lebih realistis adalah pemutusan hubungan kerja di industri teknologi masih berlanjut. Laporan menyebutkan bahwa hingga Mei 2026, jumlah pemutusan hubungan kerja di industri teknologi telah melebihi 115.000 orang, mendekati tingkat keseluruhan tahun 2025. Meta, Amazon, dan Snap semuanya pernah menjadikan AI sebagai salah satu alasan pemutusan hubungan kerja. Goldman Sachs memperkirakan bahwa AI sedang memengaruhi lapangan kerja di Amerika Serikat dengan kecepatan sekitar 16.000 lowongan per bulan, dengan pekerjaan tingkat pemula dan generasi Z yang paling terdampak.
Prometheus Fokus pada Rekayasa dan Manufaktur
Penampilan publik Bezos kali ini juga memberikan jendela promosi bagi perusahaan rintisan AI-nya, Prometheus. Perusahaan ini didirikan pada November 2025 oleh Bezos bersama mantan ilmuwan Google X, Vik Bajaj, dengan fokus pada persimpangan kecerdasan buatan dan "ekonomi nyata", khususnya di bidang rekayasa desain dan manufaktur.
Prometheus saat ini menargetkan industri seperti kedirgantaraan, otomotif, dan pengembangan obat. Bezos sebelumnya menggambarkan perusahaan ini sedang mengembangkan alat berjenis "insinyur umum" yang dapat digunakan untuk memodelkan, memprediksi, dan mengoptimalkan proses desain produk fisik, mulai dari mesin jet hingga pengembangan obat. Ia menyebutnya sebagai "versi CAD yang sangat modern".
Menurut laporan, Prometheus telah menghimpun dana sebesar $12 miliar dengan valuasi sekitar $41 miliar, menjadikannya salah satu kasus pendanaan terbesar di kalangan perusahaan AI tahap awal. Bezos juga secara khusus menegaskan bahwa Prometheus tidak terkait dengan bisnis robotika, dan anggapan publik bahwa perusahaan ini adalah "perusahaan AI robotika" tidak akurat.
Juga membahas masalah luar angkasa dan sumber daya
Dalam percakapan yang sama, Bezos juga membahas masalah eksplorasi luar angkasa dan pasokan sumber daya. Ia menyatakan bahwa jika biaya peluncuran terus menurun, dan di masa depan bahan baku dapat diperoleh dari asteroid, bulan, dan benda langit terdekat, beberapa industri berpolusi tinggi di Bumi kemungkinan akan dipindahkan.
Dia menyebutkan bahwa konsep ini terkait dengan ketegangan pasokan sumber daya kunci global seperti tanah jarang. Laporan tersebut mengutip prediksi McKinsey yang menyatakan bahwa pada tahun 2035, bahan tanah jarang magnetik dapat mengalami kekurangan pasokan sebesar 30%. Bezos berpendapat bahwa penurunan biaya transportasi luar angkasa bukan hanya peluang bisnis, tetapi juga berkaitan dengan strategi industri jangka panjang.
CEO Blue Origin, David Limp, juga memberikan pembaruan perkembangan perusahaan di lokasi. Ia menyatakan bahwa pekerjaan pemulihan landasan peluncuran New Glenn di Cape Canaveral, Florida, yang mengalami ledakan pada bulan Mei, telah dimulai, tetapi belum memberikan jadwal peluncuran baru.
