Arthur Hayes Memperingatkan Gelembung AI Akan Segera Meletus — Bitcoin Menghadapi Penurunan Jangka Pendek tetapi Berjangka Panjang Bullish

Arthur Hayes Memperingatkan Gelembung AI Akan Segera Meletus — Bitcoin Menghadapi Penurunan Jangka Pendek tetapi Berjangka Panjang Bullish

2026/06/11 16:35:00
Gambar Khusus
Arthur Hayes sekali lagi menghubungkan masa depan bitcoin dengan salah satu cerita makro terbesar di pasar global: ledakan kecerdasan buatan. CIO Maelstrom memperingatkan bahwa pasar AI mungkin memasuki tahap rapuh, di mana meningkatnya biaya energi, infrastruktur mahal, spekulasi investor berat, dan kemungkinan reaksi politik dapat menciptakan koreksi tajam.
 
Untuk bitcoin, pesan Hayes tidak semata-mata bearish. Ia percaya ledakan bubble AI dapat terlebih dahulu menciptakan tekanan jangka pendek pada harga bitcoin karena investor mengurangi risiko di saham dan kripto. Namun, prospek jangka panjang Hayes terhadap bitcoin tetap bullish karena syok pasar besar dapat mendorong pemerintah dan bank sentral kembali ke arah dukungan likuiditas, stimulus, dan pencetakan uang.
 
Ini menciptakan pandangan pasar dua tahap. Dalam jangka pendek, bitcoin mungkin menghadapi volatilitas jika saham AI dijual. Dalam jangka panjang, bitcoin bisa mendapat manfaat jika pembuat kebijakan merespons tekanan ekonomi dengan kondisi keuangan yang lebih longgar dan likuiditas yang lebih banyak.
 

Mengapa Peringatan Gelembung AI Arthur Hayes Penting bagi Investor Bitcoin

Peringatan Arthur Hayes penting karena menghubungkan ledakan AI dengan siklus makro Bitcoin. Jika saham AI melemah, selera risiko bisa turun di seluruh pasar, menimbulkan tekanan jangka pendek pada Bitcoin.
 
Namun, pandangan jangka panjang Hayes tetap bullish. Jika koreksi yang dipimpin AI mendorong pemerintah dan bank sentral menuju dukungan likuiditas atau pencetakan uang, narasi kelangkaan Bitcoin bisa menjadi lebih kuat. Dengan kata sederhana, Bitcoin mungkin turun terlebih dahulu, tetapi siklus likuiditas baru dapat mendukung reli berikutnya.
 

Harga Minyak, Risiko Kebijakan Trump, dan Teori Gelembung AI Hayes

Bagian kunci dari argumen Arthur Hayes adalah bahwa harga minyak mungkin menjadi salah satu variabel paling penting bagi pasar. Dalam esai “Reality Test”-nya, Hayes menghubungkan kenaikan harga minyak dengan ketegangan geopolitik, termasuk konflik AS-Iran dan tekanan di sekitar Selat Hormuz. Jika harga energi terus meningkat, biaya menjalankan infrastruktur AI menjadi jauh lebih sulit diabaikan.
 
Ini penting karena kecerdasan bukan hanya cerita perangkat lunak. Pusat data AI memerlukan listrik dalam jumlah besar, chip, sistem pendingin, dan investasi modal jangka panjang. Ketika energi menjadi lebih mahal, cerita pertumbuhan AI mungkin mengalami tekanan karena perusahaan harus mengeluarkan lebih banyak biaya untuk mendukung tingkat ekspansi yang sama.
 
Hayes juga menunjukkan risiko politik. Jika harga energi yang lebih tinggi, kekhawatiran akan inflasi, dan gangguan pekerjaan terkait AI menjadi isu publik utama, para pemimpin politik mungkin merespons dengan kebijakan yang lebih ketat terhadap perusahaan AI. Itu bisa mencakup pembatasan pada pembangunan pusat data atau pajak terhadap perusahaan AI jika pemilih menjadi frustrasi dengan meningkatnya biaya hidup dan otomatisasi.
 
Untuk pasar, ini bisa menjadi titik balik besar. Jika investor percaya pengeluaran modal AI dan pertumbuhan laba mungkin dibatasi oleh biaya energi atau tekanan politik, saham AI bisa mengalami koreksi tajam. Penjualan tersebut kemudian bisa menyebar ke aset berisiko lebih luas, termasuk Bitcoin dan kripto.
 
Inilah mengapa strategi Hayes tampak defensif dalam jangka pendek. Ia telah mengurangi eksposur terhadap saham terkait AI, menjual token seperti HYPE, NEAR, WLD, dan ZEC, serta beralih ke saham produksi energi. Pada saat yang sama, ia tetap memegang Bitcoin dan Ethereum karena percaya bahwa Bitcoin bisa pulih kuat setelah tekanan jangka pendek jika siklus likuiditas baru dimulai.
 

Ledakan Investasi AI Menyoroti Risiko di Balik Peringatan Hayes

Data investasi terbaru membantu menjelaskan mengapa Arthur Hayes memperhatikan sektor AI dengan saksama. Menurut perkiraan industri, investasi swasta AI global mencapai sekitar $581 miliar pada 2025, lebih dari dua kali lipat dari $253 miliar pada 2024 dan melampaui rekor sebelumnya sebesar $360 miliar yang ditetapkan pada 2021. Amerika Serikat menyumbang porsi terbesar, yaitu sekitar $285,9 miliar, sementara Tiongkok mencatat investasi swasta AI sebesar sekitar $12,4 miliar.
 
Beberapa analis memprediksi bahwa investasi AI dapat meningkat lebih lanjut pada 2026, didorong oleh ekspansi pembangunan pusat data, meningkatnya permintaan akan chip canggih, dan terus berlanjutnya pengeluaran perusahaan untuk infrastruktur AI.
 
Angka-angka ini menunjukkan seberapa dalam AI telah tertanam dalam harapan investor, rencana pengeluaran perusahaan, dan sentimen pasar yang lebih luas. Arus modal besar telah mendorong ekspansi cepat infrastruktur AI, pusat data, permintaan semikonduktor, dan proyek komputasi generasi berikutnya. Akibatnya, AI tidak lagi dipandang sebagai tren teknologi nisch, tetapi sebagai salah satu narasi pertumbuhan paling penting yang mendorong pasar global.
 
Bagi Hayes, inilah tepatnya mengapa risiko-risiko ini penting. Ketika sebuah sektor menarik ratusan miliar dolar investasi dan menjadi tema pasar yang dominan, bahkan perubahan kecil dalam harapan dapat memicu penilaian ulang yang signifikan. Jika biaya energi yang meningkat, tekanan politik, perubahan regulasi, atau pengembalian yang lebih lemah dari yang diharapkan mulai menantang cerita pertumbuhan AI, dampaknya bisa meluas jauh di luar saham teknologi.
 
Data kunci yang mendukung skala ledakan AI meliputi:
  • Investasi AI privat global mencapai $581 miliar pada 2025.
  • Investasi AI swasta AS meningkat menjadi $285,9 miliar.
  • Investasi AI swasta di Tiongkok mencapai sekitar $12,4 miliar.
  • Investasi AI global meningkat sekitar 130% year over year.
  • Investasi AI di AS meningkat sekitar 162% secara tahunan.
 
Lonjakan investasi ini membantu menjelaskan mengapa Hayes percaya koreksi pada aset terkait AI bisa menjadi peristiwa makro yang lebih luas. Jika kepercayaan terhadap narasi pertumbuhan AI melemah, volatilitas pasar yang dihasilkan bisa menyebar ke berbagai aset berisiko, termasuk bitcoin dan pasar mata uang kripto secara lebih luas.
 

Arthur Hayes Memperingatkan Gelembung AI Bisa Meledak Seiring Meningkatnya Risiko Pasar

Arthur Hayes percaya bahwa ledakan kecerdasan buatan mungkin memasuki tahap yang lebih rapuh. Menurutnya, pasar AI tidak lagi hanya menjadi cerita teknologi. Ini telah menjadi risiko makro yang terkait dengan harga energi, spekulasi investor, pengeluaran perusahaan, pasar publik, dan likuiditas global. Kekhawatirannya adalah aset terkait AI mungkin dihargai untuk pertumbuhan berkelanjutan, sementara biaya nyata dalam membangun dan menjalankan infrastruktur AI menjadi semakin sulit diabaikan.
 
  1. Evaluasi Pasar AI Sedang Menghadapi Penyesuaian Realitas

Ledakan AI telah menarik modal besar dari para investor, perusahaan teknologi, dan institusi Wall Street. Produsen chip, penyedia cloud, operator pusat data, dan startup AI semuanya mendapat manfaat dari keyakinan bahwa kecerdasan buatan akan mengubah perekonomian global.
 
Namun, Hayes memperingatkan bahwa ekspektasi pasar mungkin telah bergerak terlalu jauh di depan fondasi bisnis nyata. Investor memberikan harga pada banyak perusahaan terkait AI seolah pertumbuhan akan berlanjut dengan mulus selama bertahun-tahun. Hal ini menciptakan risiko karena bahkan kekecewaan kecil sekalipun dapat memicu koreksi tajam ketika ekspektasi sudah tinggi.
 
Kekhawatirannya bukan bahwa AI tidak memiliki nilai jangka panjang. Kekhawatirannya adalah bahwa investor mungkin telah memperkirakan pertumbuhan masa depan yang terlalu tinggi terlalu dini. Jika pertumbuhan pendapatan, margin laba, atau kecepatan adopsi gagal memenuhi harapan, saham AI bisa mengalami tekanan penjualan.
 
Risiko gelembung AI utama meliputi:
  • Penilaian tinggi di berbagai saham terkait AI
  • Pengeluaran besar-besaran pada chip, pusat data, dan infrastruktur cloud
  • Ekspektasi investor yang mungkin sulit dipenuhi
  • Kelemahan jika perusahaan AI besar mengecewakan pasar
 
Inilah mengapa frasa “gelembung AI” semakin sering muncul dalam diskusi pasar. Teknologinya mungkin nyata, tetapi penetapan harga pasar di sekitarnya masih bisa menjadi terlalu panas.
 
  1. Biaya energi yang meningkat bisa memberikan tekanan pada cerita pertumbuhan AI

Salah satu alasan utama Hayes khawatir tentang pasar AI adalah permintaan energi. Sistem AI memerlukan jumlah daya komputasi yang sangat besar, dan daya komputasi bergantung pada listrik. Seiring perusahaan membangun lebih banyak pusat data AI, konsumsi energi menjadi faktor biaya utama.
 
Jika harga minyak, gas, atau listrik naik, biaya operasional infrastruktur AI mungkin meningkat. Hal ini dapat memberi tekanan pada margin laba dan memaksa investor untuk mempertimbangkan kembali nilai perusahaan terkait AI. Untuk sektor yang sudah diperdagangkan berdasarkan harapan tinggi, kenaikan biaya bisa menjadi masalah serius.
 
Ini sangat penting karena ekspansi AI bergantung pada lebih dari sekadar inovasi perangkat lunak. Ini juga bergantung pada infrastruktur fisik: jaringan listrik, sistem pendingin, chip, lahan, dan investasi modal. Jika salah satu dari area ini menjadi lebih mahal, cerita pertumbuhan AI mungkin terlihat kurang mulus daripada yang diharapkan investor.
 
Koreksi AI besar mungkin dimulai ketika investor berhenti hanya fokus pada pertumbuhan masa depan dan mulai mengajukan pertanyaan yang lebih sulit mengenai biaya, pasokan energi, dan profitabilitas.
 
  1. IPO Mega AI Bisa Menandakan Kelelahan Pasar

Hayes juga menunjukkan risiko IPO terkait AI yang besar. Ketika perusahaan swasta bernilai tinggi memasuki pasar publik, mereka menguji minat investor. Jika IPO AI besar menerima permintaan lemah atau performanya buruk setelah listing, hal itu bisa menjadi tanda peringatan bahwa perdagangan AI kehilangan momentum.
 
Selama pasar bull yang kuat, investor sering bersedia membayar harga tinggi untuk pertumbuhan masa depan. Tetapi ketika kepercayaan mulai memudar, IPO dapat mengungkap kesenjangan antara valuasi pasar swasta dan kenyataan pasar publik.
 
IPO AI lemah dapat memengaruhi lebih dari satu perusahaan. Hal ini dapat merusak kepercayaan di seluruh sektor AI secara luas dan menyebabkan investor meninjau kembali saham teknologi lainnya. Hal ini kemudian dapat menyebar ke crypto karena bitcoin dan aset digital lainnya sering bereaksi terhadap sentimen risiko yang lebih luas.
 
Jika IPO AI raksasa gagal memenuhi harapan, hal itu bisa menjadi sinyal pasar yang jelas bahwa investor tidak lagi bersedia membayar berapa pun harga untuk paparan terhadap AI.
 
  1. Tanggapan Politik Terhadap KI Bisa Meningkatkan Ketidakpastian Pasar

Bagian penting lain dari peringatan Hayes adalah risiko politik. AI dapat meningkatkan produktivitas dalam jangka panjang, tetapi juga dapat mengganggu pekerjaan di banyak industri. Jika para pekerja mulai merasa bahwa AI menggantikan mereka terlalu cepat, tekanan publik terhadap pemerintah bisa meningkat.
 
Pemerintah mungkin merespons dengan aturan baru, pajak, pembatasan, atau kritik publik terhadap perusahaan AI. Ini bisa memperlambat pertumbuhan sektor ini atau membuat investor lebih berhati-hati. Bagi pasar, ketidakpastian politik sering menciptakan tekanan penilaian karena pendapatan masa depan menjadi lebih sulit diprediksi.
 
Risiko ini membuat perdebatan tentang gelembung AI menjadi lebih serius. Masalahnya bukan hanya apakah teknologi AI berfungsi. Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah masyarakat, regulator, sistem energi, dan pasar keuangan dapat mendukung kecepatan ekspansi AI yang saat ini dihargai oleh investor.
 
Menurut Hayes, tekanan-tekanan ini dapat bergabung menjadi koreksi pasar yang lebih luas. Jika gelembung AI meledak, reaksi pertama mungkin berupa pergerakan menghindari risiko di seluruh saham dan kripto.
 

Harga Bitcoin Menghadapi Penurunan Jangka Pendek Di Tengah Kekhawatiran Penjualan Saham AI

Bitcoin mungkin tetap secara struktural bullish dalam jangka panjang, tetapi Hayes memperingatkan bahwa susunan pasar jangka pendek bisa menjadi lebih sulit jika perdagangan AI mulai dibalik. Karena Bitcoin masih dianggap oleh banyak investor sebagai aset berisiko high-beta, penurunan tajam pada saham AI dapat dengan cepat menyebar ke pasar kripto. Dalam lingkungan itu, harga Bitcoin mungkin mengalami tekanan turun sementara karena trader mengurangi risiko, menutup posisi berisiko tinggi, dan memindahkan modal ke kas atau aset yang lebih aman.
 
  1. Bitcoin Bisa Bereaksi terhadap Pasar yang Lebih Luas dengan Sikap Menghindari Risiko

Bitcoin sering digambarkan sebagai emas digital, tetapi selama periode kepanikan pasar, ia masih bisa berperilaku seperti aset risiko. Ketika investor merasa cemas terhadap saham, valuasi teknologi, atau likuiditas global, mereka sering menjual aset volatil terlebih dahulu.
 
Bitcoin dapat dimasukkan dalam kelompok itu karena diperdagangkan secara global, memiliki likuiditas yang dalam, dan banyak digunakan oleh trader institusional maupun ritel. Jika saham AI mulai jatuh tajam, reaksi pertama mungkin tidak selektif. Investor mungkin mengurangi eksposur di beberapa pasar berisiko secara bersamaan.
 
Ini bisa mencakup:
  • Saham teknologi
  • Aset kripto
  • Saham pertumbuhan tinggi
  • Token spekulatif
  • Posisi perdagangan berisiko
 
Untuk bitcoin, ini berarti harga bisa turun meskipun thesis jangka panjang tetap tidak berubah. Pergerakan jangka pendek akan lebih didorong oleh psikologi pasar daripada fundamental bitcoin.
 
  1. Kekurangan Saham AI Bisa Memicu Tekanan terhadap Sentimen Kripto

Sektor AI telah menjadi salah satu pendorong utama optimisme pasar. Banyak investor melihat kecerdasan buatan sebagai tema pertumbuhan utama, dan optimisme ini telah mendukung minat risiko yang lebih luas. Jika narasi ini melemah, sentimen kripto juga bisa terpengaruh.
 
Penurunan tajam pada saham terkait AI mungkin menandakan bahwa investor menjadi lebih berhati-hati. Ketika kepercayaan meredup di satu sektor pertumbuhan utama, modal sering kali berpindah dari aset-aset volatil lainnya. Bitcoin, Ethereum, dan altcoin semua bisa merasakan tekanan.
 
Ini sangat penting karena pasar kripto sangat dipengaruhi sentimen. Ketika trader melihat saham teknologi besar jatuh, mereka mungkin mengharapkan kripto mengikuti. Harapan itu saja sudah dapat meningkatkan tekanan penjualan.
 
Risiko jangka pendek utama meliputi:
  • Kelemahan pada saham AI dan teknologi
  • Penurunan minat investor terhadap aset berisiko
  • Likuiditas yang berkurang di pasar kripto
  • Tekanan penjualan yang lebih cepat dari trader berisiko
 
Jika saham AI kehilangan momentum, harga bitcoin mungkin mengalami penurunan jangka pendek karena para pedagang beralih ke posisi defensif.
 
  1. Leverage Bisa Membuat Penurunan Bitcoin Lebih Tajam

Alasan lain harga bitcoin bisa mengalami penurunan jangka pendek adalah leverage. Pasar kripto sering memiliki sejumlah besar posisi panjang berleverage. Ketika harga mulai jatuh, posisi-posisi ini dapat dipaksa untuk ditutup melalui likuidasi.
Likuidasi dapat membuat koreksi normal menjadi lebih agresif. Jika bitcoin jatuh di bawah level harga kunci, trader berisiko tinggi mungkin secara otomatis dikeluarkan dari pasar. Penjualan paksa ini dapat menciptakan reaksi berantai, mendorong harga lebih rendah dan meningkatkan volatilitas.
 
Dalam skenario penjualan saham AI, risiko ini menjadi lebih serius. Pedagang mungkin tidak hanya bereaksi terhadap grafik Bitcoin sendiri, tetapi juga terhadap kelemahan di pasar global. Jika baik kripto maupun saham teknologi jatuh pada saat yang sama, penjualan panik dapat berkembang dengan cepat.
 
Inilah mengapa trader jangka pendek perlu berhati-hati. Thesis bitcoin jangka panjang yang bullish tidak melindungi posisi dengan leverage tinggi dari guncangan pasar jangka pendek.
 
  1. Kelemahan Jangka Pendek Bitcoin Tidak Membatalkan Tesis Bullish

Peringatan Hayes tidak sama dengan mengatakan bahwa pasar bull jangka panjang Bitcoin telah berakhir. Penurunan jangka pendek Bitcoin dapat terjadi bahkan ketika teori makro yang lebih luas tetap positif. Poin utamanya adalah bahwa Bitcoin mungkin turun terlebih dahulu selama guncangan likuiditas sebelum pulih kemudian.
 
Pola ini telah terjadi sebelumnya di pasar risiko. Ketika investor membutuhkan uang tunai, mereka sering menjual aset-aset kuat maupun lemah. Bitcoin dapat turun pada tahap awal koreksi pasar karena bersifat likuid dan mudah diperdagangkan.
 
Namun, jika penjualan menyebabkan ekspektasi suku bunga lebih rendah, lebih banyak dukungan kebijakan, atau injeksi likuiditas yang diperbarui, bitcoin mungkin kemudian mendapat manfaat. Itulah sebabnya pandangan Hayes tetap seimbang: tekanan jangka pendek, tetapi potensi bullish jangka panjang.
 
  1. Pedagang Mungkin Memantau Sinyal Pasar Kunci

Bagi para trader, tugas paling penting bukanlah memprediksi setiap pergerakan harga. Namun, memantau sinyal yang menunjukkan apakah selera risiko membaik atau melemah. Jika saham AI terus jatuh dan bitcoin menembus level support utama, risiko penurunan jangka pendek bisa meningkat.
 
Sinyal pasar penting meliputi:
  • Aksi harga bitcoin di sekitar zona support utama
  • Kinerja saham AI dan teknologi
  • Data likuidasi kripto
  • Ekspektasi kebijakan Federal Reserve AS
  • Perubahan dalam likuiditas global dan selera risiko
 
Jika sinyal-sinyal ini melemah secara bersamaan, bitcoin bisa tetap mengalami tekanan dalam jangka waktu dekat. Tetapi jika ekspektasi likuiditas membaik, pasar mungkin mulai melihat melewati penjualan AI dan kembali ke kasus bull bitcoin jangka panjang.
 

Prospek Jangka Panjang Bitcoin Bullish Memperkuat Diri pada Likuiditas dan Pencetakan Uang

Meskipun Arthur Hayes memperkirakan bitcoin akan menghadapi tekanan jangka pendek jika gelembung AI meletus, prospek jangka panjangnya tetap bullish. Argumen utamanya adalah likuiditas. Jika koreksi pasar yang dipimpin oleh AI menciptakan tekanan ekonomi, pemerintah dan bank sentral mungkin merespons dengan kebijakan yang lebih longgar, stimulus, atau pencetakan uang.
 
  1. Liquidity Tetap Menjadi Kunci untuk Bitcoin

Bitcoin sering kali tampil lebih baik ketika likuiditas global membesar. Ketika uang sulit didapat, Bitcoin bisa kesulitan. Tetapi ketika likuiditas kembali, nafsu berisiko bisa membaik dan modal mungkin mengalir kembali ke crypto.
 
  1. Pencetakan Uang Mendukung Narasi Kelangkaan Bitcoin

Bitcoin memiliki pasokan tetap sebanyak 21 juta koin, sementara mata uang fiat dapat dicetak oleh bank sentral. Jika pencetakan uang lebih banyak kembali, narasi kelangkaan Bitcoin mungkin menjadi lebih kuat bagi investor yang khawatir tentang pelemahan mata uang.
 
  1. Dukungan kebijakan dapat membantu aset berisiko pulih

Jika pasar melemah setelah penjualan AI, bank sentral mungkin menjadi lebih mendukung. Ekspektasi suku bunga lebih rendah atau dukungan likuiditas dapat membantu saham, kripto, dan aset berisiko lainnya pulih.
 
  1. Sakit Jangka Pendek Mungkin Menyetel Ulang Pasar

Penurunan bitcoin dapat mengurangi leverage dan menghilangkan spekulasi berlebihan. Bagi investor jangka panjang, pertanyaan yang lebih besar adalah apakah koreksi ini memicu siklus likuiditas berikutnya.
 
Menurut Hayes, bitcoin mungkin jatuh terlebih dahulu jika gelembung AI meledak, tetapi bisa pulih kembali nanti jika pencetakan uang dan ekspansi likuiditas kembali terjadi.
 

Kesimpulan

Peringatan gelembung AI dari Arthur Hayes tidak sepenuhnya bearish terhadap bitcoin. Ia memperkirakan bitcoin akan menghadapi tekanan jangka pendek jika saham AI mengalami koreksi tajam, tetapi prospek jangka panjangnya tetap bullish.
 
Jika guncangan pasar yang dipimpin AI mendorong pemerintah dan bank sentral menuju likuiditas lebih banyak dan pencetakan uang, bitcoin bisa mendapat manfaat nanti. Dengan kata sederhana, Hayes melihat kemungkinan penurunan bitcoin terlebih dahulu, diikuti oleh kasus bull jangka panjang yang lebih kuat.
 

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa yang dikatakan Arthur Hayes tentang gelembung AI?

Arthur Hayes memperingatkan bahwa pasar kecerdasan buatan mungkin mendekati tahap mirip gelembung. Ia percaya bahwa valuasi AI yang tinggi, meningkatnya biaya infrastruktur, permintaan energi, dan spekulasi investor dapat menciptakan koreksi pasar besar-besaran.

Mengapa Arthur Hayes berpikir gelembung AI bisa meledak?

Hayes percaya bahwa ledakan AI bisa melemah karena pasar mungkin telah memperkirakan pertumbuhan masa depan yang terlalu tinggi. Meningkatnya biaya energi, pusat data yang mahal, IPO AI besar, dan tekanan politik akibat gangguan pekerjaan semuanya bisa menciptakan tekanan pada saham terkait AI.

Bagaimana ledakan gelembung AI dapat memengaruhi harga bitcoin?

Jika saham AI menjalani penurunan tajam, investor mungkin mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Karena Bitcoin sering diperdagangkan seperti aset berisiko selama kepanikan pasar, harganya bisa mengalami tekanan jual jangka pendek meskipun prospek jangka panjang Bitcoin tetap bullish.

Apakah Arthur Hayes bearish terhadap bitcoin?

Arthur Hayes tidak sepenuhnya bearish terhadap bitcoin. Pandangannya waspada jangka pendek tetapi bullish jangka panjang. Ia memperkirakan bitcoin bisa turun terlebih dahulu jika gelembung AI meletus, tetapi kemudian pulih ketika pemerintah dan bank sentral merespons dengan lebih banyak likuiditas.

Mengapa bitcoin bisa turun dalam jangka pendek?

Bitcoin bisa turun dalam jangka pendek karena penjualan saham berbasis AI dapat memicu sentimen risiko yang lebih luas. Pedagang mungkin menutup posisi berisiko, berpindah ke kas, dan mengurangi eksposur terhadap aset volatil seperti Bitcoin, Ethereum, dan altcoin.

Mengapa Arthur Hayes masih optimis terhadap bitcoin dalam jangka panjang?

Hayes tetap optimis terhadap bitcoin karena ia mengharapkan guncangan pasar besar akan mendorong pembuat kebijakan untuk memberikan dukungan likuiditas dan pencetakan uang. Lebih banyak likuiditas dapat meningkatkan permintaan terhadap aset langka seperti bitcoin.

Apa arti pencetakan uang bagi bitcoin?

Pencetakan uang merujuk pada bank sentral atau pemerintah yang meningkatkan likuiditas dalam sistem keuangan. Untuk bitcoin, ini dapat memperkuat narasi kelangkaannya karena bitcoin memiliki pasokan maksimum tetap sebanyak 21 juta koin.

Apakah bitcoin bisa mendapat manfaat setelah gelembung AI meledak?

Ya, menurut tesis Hayes, bitcoin bisa mendapat manfaat setelah gelembung AI meledak jika krisis tersebut menyebabkan lebih banyak likuiditas, kebijakan moneter yang lebih longgar, dan permintaan ulang terhadap aset moneter alternatif.
 
 

Disclaimer

Informasi yang disediakan di halaman ini mungkin berasal dari sumber pihak ketiga dan tidak selalu mewakili pandangan atau pendapat KuCoin. Konten ini dimaksudkan semata-mata untuk tujuan informasi umum dan tidak boleh dianggap sebagai saran keuangan, investasi, atau profesional. KuCoin tidak menjamin keakuratan, kelengkapan, atau keandalan informasi tersebut, dan tidak bertanggung jawab atas kesalahan, kelalaian, atau hasil apa pun yang timbul dari penggunaannya. Berinvestasi dalam aset digital membawa risiko yang melekat. Silakan evaluasi dengan cermat toleransi risiko dan situasi keuangan Anda sebelum membuat keputusan investasi apa pun. Untuk detail lebih lanjut, silakan konsultasikan Ketentuan Penggunaan dan Pengungkapan Risiko KuCoin.

Penafian: Halaman ini diterjemahkan menggunakan teknologi AI (didukung oleh GPT) untuk kenyamanan Anda. Untuk informasi yang paling akurat, lihat versi bahasa Inggris aslinya.